Rambut rontok? Klik disini untuk konsultasi gratis. Special discount 15% untuk pembelian 3 bulan!

Mengenal Ketoconazole, Shampoo Anti Ketombe untuk Kulit Kepala

Obat Ketoconazole

Para ahli sepakat bahwa rambut yang sehat adalah rambut yang berkilau dengan tekstur halus dan memiliki ujung yang runcing. Dimana tekstur dan kilap rambut berhubungan dengan sifat permukaan rambut, sedangkan ujung rambut berhubungan dengan kondisi korteks rambut. Perlu diingat bahwa rambut yang sehat tidak harus berwarna hitam dan lurus, karena bentuk dan warna rambut bergantung dengan identitas setiap manusia yang berbeda. Selain itu, rambut yang sehat tentunya bebas dari segala permasalahan rambut. Seperti ketombe, rambut rontok, rambut lepek, rambut patah, dan lain sebagainya.

Salah satu permasalahan rambut yang sering kali adalah rambut rontok. Permasalahan rambut rontok tidak mengenal gender, status, pekerjaan, dan lain-lain. Rambut rontok bisa terjadi kepada siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun demikian, berdasarkan survey permasalahan rambut rontok lebih sering terjadi pada pria.

Terlebih yang memasuki usia tertentu. Salah satu shampoo yang disinyalir ampuh dalam mengatasi rambut rontok adalah shampoo yang mengandung zat sintetis Ketoconazole. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai pengobatan dengan shampoo ketoconazole, penggunaan dan dosis pemakaian serta efek samping yang dapat ditimbulkan oleh Ketoconazole. Berikut penjelasannya:


Apa Itu Ketoconazole?

Pada dasarnya Ketoconazole adalah shampoo antifungal atau anti ketombe. Berdasarkan jenisnya, ketoconazole berfungsi untuk menekan pertumbuhan ketombe yang mulai muncul dan berkembang biak di permukaan kulit kepala. Ketoconazole juga mampu membunuh ketombe penyebab infeksi dan sekaligus mematikan sel jamur tersebut agar tidak tumbuh kembali.

Biasanya, kandungan ketoconazole terdapat pada shampoo digunakan untuk penyakit kulit kepala yang disebabkan oleh jamur seperti kurap, panu, dermatitis seboroik, bahkan ketombe. Ketombe sendiri walaupun bukan menjadi penyebab utama, namun jika dibiarkan dan tidak segera diobati akan memberikan dampak buruk ke kulit kepala. Kulit kepala yang penuh dengan jamur atau ketombe akan dipenuhi sebum dan bisa berdampak pada kerontokan rambut yang terjadi.


Dosis Pemakaian Ketoconazole

Pemakaian shampoo kimiawi sebaiknya berada di bawah pengawasan dokter atau para ahli. Penggunaan berdasarkan perkiraan secara pribadi bisa menimbulkan dampak buruk. Terlebih jika dikonsumsi secara berlebihan. Untuk dosis yang tepat dalam menggunakan ketoconazole sendiri bergantung dengan sakit atau infeksi yang diderita. Dan juga bentuk shampoo yang diberikan kepada pasien. Sehingga, seperti yang ditegaskan di awal, penggunaan ketoconazole lebih baik diawasi oleh dokter atau ahli. Namun jika ingin lebih mudah, bisa langsung membeli produk yang siap pakai yang sudah pasti aman dan teruji klinis. Produk tersebut dengan mudah dapat ditemukan di Newman’s.

Namun, ketoconazole yang digunakan pada produk luar, seperti krim oles dan shampo umumnya hanya sebesar 2% saja. Penggunaan yang berlebihan tidak disarankan karena bisa menimbulkan dampak buruk bagi kulit kepala. Untuk produk perawatan rambut, biasanya ketoconazole digunakan berdampingan dengan produk yang berisi kandungan lainnya. Agar mendapatkan hasil yang maksimal, biasanya untuk mengatasi rambut rontok produk ketoconazole disarankan digunakan berdampingan dengan produk yang mengandung minoxidil atau finasteride.


Efektifkah Ketoconazole untuk Rambut Rontok?


Ketoconazole sendiri saat ini banyak ditemukan menjadi salah satu kandungan dari shampo rambut rontok. Hal ini disebabkan senyawa ketoconazole disinyalir dapat berfungsi juga sebagai DHT blocker atau senyawa untuk memblokir DHT. Dihydrotestosterone (DHT) merupakan hormon yang termasuk hormon androgen di tubuh pria. Hormon androgen sendiri bertanggung jawab untuk membentuk karakteristik tubuh laki-laki . Akan tetapi hormon DHT akan membuat folikel pada pria mengecil yang diikuti oleh semakin menipisnya rambut yang dimiliki pria. Sehingga lambat laun akan menyebabkan kebotakan.

Kadar hormon DHT yang dimiliki oleh pria juga berbeda-beda. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kulit kepala pria yang mengalami kebotakan mengandung lebih banyak hormon DHT dibandingkan dengan yang tidak.

Ketoconazole dalam dosis yang tepat pada shampo akan bisa memperlambat perkembangan hormon DHT itu sendiri di kulit kepala. Dengan cara memblokir pengikatan hormon DHT dengan reseptor androgen di dalam folikel rambut. Sehingga selain mereduksi hormon DHT, ketoconazole juga sekaligus bisa merangsang pertumbuhan rambut dari dalam.

Percobaan efektivitas penggunaan ketoconazole di shampo untuk mengatasi rambut rontok sendiri sudah pernah dilakukan oleh beberapa ahli. Salah satunya adalah Rafi dan Katz pada tahun 2011. Percobaan pemakaian shampo tersebut dilakukan kepada 15 orang, dimana diantaranya mengalami kebotakan secara genetic maupun yang bukan. Hasil dari percobaan tersebut, shampo dengan ketoconazole yang dipakaikan secara rutin selama 60 hari, terbukti dapat merangsang pertumbuhan rambut. Bahkan hasilnya terlihat adanya perubahan dan pertumbuhan rambut yang cukup signifikan bagi ke-15 peserta tersebut.

Selain percobaan Rafi dan Katz, pada percobaan terbaru yang dilakukan pada tikus juga menunjukkan hasil yang sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa kandungan ketoconazole pada shampo secara efektif dapat mengatasi permasalahan rambut rontok. Akan tetapi pada percobaan yang menggunakan tikus tersebut, didampingi produk lain yang mengandung minoxidil dan mengandung finasteride. Hasilnya dengan ditambah produk pendamping, pertumbuhan rambut menjadi lebih cepat dibandingkan dengan hanya memakai shampo ketoconazole.

Dengan demikian, ketoconazole bisa menjadi pilihan yang tepat bagi yang memiliki permasalahan rambut rontok. Tinggal hanya cermat dalam memilih dan membeli produk shampo yang mengandung ketoconazole.  Akan lebih baik jika ingin mempercepat penumbuhan rambut menggunakan produk tambahan yang mengandung minoxidil atau finasteride. Rambut rontok dipastikan akan hilang, bahkan tidak ada lagi kebotakan yang dialami.

Efek Samping Ketoconazole

Efek samping ketoconazole paling umum terjadi, di antaranya:

  • Mual, muntah, dan nyeri pada bagian perut
  • Gatal-gatal atau ruam ringan 
  • Pusing dan Sakit kepala
  • Pembengkakan payudara 
  • Menurunnya gairah seksual 

Tidak semua orang mengalami efek samping seperti yang telah disebutkan. Ada beberapa orang yang mungkin saja mengalami beberapa efek samping yang tidak disebutkan. Namun, jika Kamu khawatir mengenai efek samping yang mungkin ditimbulkan, konsultasikan pada dokter. 

Demikianlah ulasan mengenai ketoconazole. Selalu konsultasikan kepada dokter spesialis sebelum menggunakan obat antijamur ini. Hal ini penting untuk Kamulakukan untuk meminimalisir timbulnya efek samping.


Referensi
Sinclair, Rodney D. Healthy Hair: What is it?. Journal of Investigative Dermatology Symposium Proceeding No. 12 (2017):2-5. Doi: 10.1038/sj.jidsymp.5650046
Franchimont, C Pierrad, et.al., Ketoconazole Shampo: Effect of Long-Term Use in Androgenic Alopecia. Dermatology Vol.196 (1998): 474-477. Doi: 10.1159/000017954
Male pattern baldness: What you need to know. Medical News Today. Available at: https://www.medicalnewstoday.com/articles/68077.php. Accessed December 19, 2019
Rafi, A.W, and Katz, R.M,. Pilot Study of 15 Patients Receiving a New Treatment Regimen for Androgenic Alopecia: The Effects of Atopy on AGA. ISRN Dermatol vol.2011 (2011):327-341. Doi: 10.5402/2011/241953
Aldhalimi, Muhsin A, et. Al., Promotive Effect of Topical Ketoconazole, Minoxidil, and Minoxidil with Tretinoin on Hair Growth in Male Mice. ISRN Pharmacol Mar (2014): 423-470. Doi: 10.1155/2014/575423


Related Products


Keranjangmu masih kosong

Yuk diisi dengan produk-produk andalan kamu!