Special discount 15% untuk pembelian produk 3 bulan!

Ini Dampak Psikologis Merokok yang Perlu Anda Ketahui

dampak psikologis merokok
Wallpaperbetter

Bahaya merokok bukan menjadi hal baru bagi masyarakat Indonesia. Banyak penelitian menyebutkan, berbagai kandungan rokok, mulai dari aseton, tar, nikotin, hingga karbon monoksida sangat berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi. Dampak yang ditimbulkan pun tidak hanya memengaruhi kesehatan organ tubuh, tetapi juga psikologis seseorang.

Nah, mau tahu seperti apa dampak psikologi merokok? Yuk, simak penjelasannya melalui pembahasan di bawah ini.

Menciptakan Ketergantungan

Ketika menghisap rokok, kandungan nikotin hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 detik untuk memengaruhi otak. Hal ini secara tidak langsung dapat berimplikasi terhadap kinerja otak sehingga memicu ketergantungan, yang kemudian akan mengubah cara berpikir dan perilaku seseorang. 

Saat berada di otak, nikotin akan bekerja memicu peningkatan hormon dopamin, yang berfungsi untuk membantu memperbaiki suasana hati dan menimbulkan rasa puas. Hanya saja, peningkatan hormon dopamin berlebihan justru dapat mengakibatkan penurunan enzim monoamineoxidase yang berperan dalam menurunkan kadar dopamin apabila melebihi batas. 

Tanpa enzim monoamineoxidase, kadar dopamin berlebih akibat intensitas masuknya nikotin ke dalam otak, akan sulit dikendalikan sehingga pada akhirnya memunculkan kecanduan nikotin

Perubahan Perilaku

Kamu pernah merasakan sangat ingin merokok saat sedang pusing memikirkan suatu masalah ataupun setelah bekerja penuh seharian? Kalau pernah, hal itu merupakan contoh dampak psikologis merokok. Biasanya kegiatan tersebut akan kamu lakukan tanpa disadari. 

Efek peningkatan dopamin di dalam otak membuat seseorang dapat merasakan ketenangan atau bahagia sesaat ketika merokok. Hal tersebut secara tidak langsung membuat mereka kesulitan menenangkan pikirannya sendiri apabila tidak melakukan aktivitas tersebut. 

Oleh karenanya, perokok seringkali akan selalu mencari cara ketika keinginannya merokok dilarang. Bahkan, mereka terkadang bisa menjadi lebih agresif dan gampang marah saat mengalami situasi tersebut. Hal ini tentu akan memengaruhi terhadap kehidupan sosial mereka. 

Mengalami Depresi

Setiap orang sebenarnya dapat mengalami depresi karena beberapa faktor, yakni genetik, lingkungan sosial, hingga kesehatan. Namun, berdasarkan beberapa penelitian mengungkapkan, gejala depresi bisa semakin parah apabila seseorang sudah mengalami ketergantungan merokok. 

Hasil riset publikasi Journal Plos One, misalnya, yang menyatakan, perokok  memiliki tingkat depresi klinis dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada seseorang yang tidak merokok. Hal ini diketahui setelah para peneliti melakukan riset kepada 2.000 responden di beberapa Universitas Serbia. 

Selain itu, menurut beberapa penelitian lain, merokok dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami skizorfrenia, atau gangguan kejiwaaan yang parah. Hal ini biasanya dimulai ketiga perokok memasuki usia dewasa. Gejala paling umum biasanya mereka akan mengalami gangguan dalam berpikir serta adanya pengalaman psikotik dalam kehidupan sehari-harinya. 

Kelebihan Dopamin

Risiko-risiko depresi dan gangguan jiwa itu muncul karena adanya kelebihan dopamin dalam otak. Hal ini, menurut Robin Murray, salah satu profesor penelitian psikiatri di Universitas King, London, Inggris menyebabkan adanya hubungan sebab akibat antara merokok dan psikosis (seseorang penderita yang mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi). 

Biasanya, orang-orang yang memiliki kelebihan dopamin akan lebih mudah gelisah, terlalu bersemangat, memiliki libido tinggi, sering terkena insomnia, hingga sangat mudah terserang stress. 

Bagaimana? setelah membaca artikel di atas, apakah kamu sudah tahu bahaya dan dampak psikologis merokok? Meski mengerikan, telah banyak orang yang berhasil mengurangi hingga berhenti menghisap benda berbahaya tersebut. 

Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan, mulai dari meneguhkan diri untuk berhenti, berhenti merokok perlahan-lahan, memberitahu rekan atau sahabat untuk memberikan dukungan, hingga mengikuti konseling dan terapi.

Keranjangmu masih kosong

Yuk diisi dengan produk-produk andalan kamu!